Mengelola pengeluaran merupakan kunci utama agar UMKM dapat bertahan dan terus berkembang di tengah persaingan pasar. Banyak pelaku usaha kecil merasa penjualan sudah cukup baik, namun tetap mengalami kerugian karena pengeluaran tidak terkendali. Oleh sebab itu, dibutuhkan strategi yang tepat agar arus keuangan tetap sehat dan bisnis tidak mudah goyah.
1. Memisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis
Kesalahan umum pelaku UMKM adalah mencampurkan uang pribadi dengan uang usaha. Hal ini membuat catatan keuangan menjadi tidak jelas dan pengeluaran tak terkendali. Dengan membuat rekening terpisah, pemilik usaha dapat memonitor pemasukan serta pengeluaran secara lebih akurat. Selain itu, pemilik juga dapat menentukan gaji pribadi sehingga tidak mengambil dana usaha seenaknya.
2. Menyusun Anggaran Bulanan Secara Realistis
Anggaran adalah peta keuangan bisnis. Tanpa anggaran, pengeluaran mudah melampaui batas yang seharusnya. UMKM perlu menentukan kategori biaya seperti bahan baku, operasional, pemasaran, dan biaya darurat. Setelah itu, lakukan evaluasi setiap bulan untuk melihat bagian mana yang bisa dihemat atau perlu ditingkatkan. Dengan kebiasaan ini, pengeluaran bisa lebih terkendali dan sesuai tujuan.
3. Memprioritaskan Pengeluaran Penting
Tidak semua pengeluaran harus dilakukan sekaligus. Pelaku UMKM perlu mengelompokkan prioritas, mulai dari kebutuhan utama hingga yang bisa ditunda. Misalnya, membeli bahan baku merupakan kebutuhan utama, sedangkan pembaruan peralatan atau dekorasi toko dapat dilakukan saat kondisi keuangan lebih stabil. Memahami prioritas membantu bisnis tetap berjalan tanpa membebani keuangan.
4. Mengelola Stok dengan Efisien
Stok yang menumpuk dapat memakan biaya besar, terutama jika barang memiliki masa kedaluwarsa atau mengikuti tren tertentu. Dengan melakukan pencatatan stok dan menganalisis produk mana yang paling laku, UMKM dapat menyesuaikan jumlah pembelian secara lebih cerdas. Sistem stok yang rapi mencegah kerugian dari barang rusak, hilang, atau tidak terjual.
5. Mencari Supplier yang Lebih Kompetitif
Harga bahan baku sangat memengaruhi total biaya produksi. UMKM perlu membangun relasi dengan beberapa pemasok untuk membandingkan harga, kualitas, serta kecepatan layanan. Kadang, membeli dalam jumlah lebih besar atau memilih supplier lokal dapat menghemat banyak biaya. Negosiasi juga menjadi keterampilan penting agar pelaku usaha mendapatkan harga terbaik.
6. Mengurangi Pengeluaran Tidak Produktif
Pengeluaran yang tidak berdampak pada pertumbuhan bisnis harus dievaluasi. Misalnya, biaya langganan yang jarang digunakan, iklan yang tidak efektif, atau perjalanan yang tidak mendesak. Dengan menyeleksi pengeluaran, dana dapat dialihkan untuk aktivitas yang memberikan hasil nyata, seperti peningkatan kualitas produk atau promosi yang lebih tepat sasaran.
7. Membuat Laporan Keuangan Secara Berkala
Tanpa laporan keuangan, pemilik usaha sulit mengetahui kondisi bisnis secara nyata. Laporan sederhana seperti arus kas, laba rugi, dan pencatatan transaksi harian sudah cukup untuk memantau kesehatan keuangan. Dengan data yang akurat, UMKM bisa mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat dan menghindari pengeluaran tidak perlu.
Dengan pengelolaan pengeluaran yang disiplin dan terencana, UMKM dapat meningkatkan peluang bertahan di tengah perubahan pasar. Pada akhirnya, strategi yang tepat bukan hanya menghindarkan bisnis dari kerugian, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
